Skip to main content

Ternyata Ini yang Terjadi Kalau Kamu Berhenti Ngoyo Kejar yang Nggak Penting

Mantan biksu, lulusan MIT, sekaligus CEO multijutawan ini bongkar 5 pelajaran hidup soal kenapa growth mindset bisa jadi jebakan, dan cara berhenti mengejar hal yang tidak penting demi hidup yang lebih bermakna.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Hikmah & Motivasi
Ilustrasi Laki-laki Melihat ke Kejauhan
Ilustrasi Laki-laki Melihat ke Kejauhan

Coba jujur sama diri sendiri deh. Berapa kali kamu udah capek-capek lari ngejar satu target, begitu sampai, garis finish-nya malah digeser lagi ke depan? Kita semua kayaknya kena penyakit yang sama: sibuk kerja demi bisa "hidup enak" nanti, tapi "nanti"-nya nggak pernah benar-benar datang. Kita hidup untuk bekerja, demi bisa membeli sesuatu yang sebenarnya cuma bisa dinikmati kalau kita berhenti bekerja.

Nggak banyak orang yang benar-benar sudah mencicipi dua ujung ekstrem ini secara langsung. Sandeep salah satunya — pernah jadi biksu, pernah tidur di jalanan Mumbai tanpa rumah, lalu lulus dari MIT, dan akhirnya membangun serta memimpin perusahaan-perusahaan bernilai miliaran dolar. Di sepanjang perjalanan itu, ada beberapa nasihat sederhana yang diam-diam mengubah cara dia melihat kesuksesan. Nasihat-nasihat ini juga mungkin bisa mengubah cara pandangmu — apalagi kalau selama ini kamu ngerasa udah ngoyo banget mengejar pertumbuhan, tapi masih aja ada yang terasa kosong.

Yuk, kita bahas satu-satu.


DAFTAR ISI

1. Kuasai Hari Ini Dulu, Baru Ngejar Masa Depan

Jalan tercepat menuju pekerjaan impian ternyata bukan lari secepat-cepatnya, tapi justru memperlambat langkah dan benar-benar menguasai peran yang sedang kamu jalani sekarang. Susah banget lompat ke posisi berikutnya kalau di posisi sekarang aja kamu jalaninnya sambil "setengah tidur".

Sandeep pernah duduk di sesi review tahunan, terus bilang ke atasannya — yang kebetulan presiden perusahaan — bahwa suatu hari dia pengin naik ke posisi eksekutif puncak. Jawaban atasannya cuma tiga kata: "Fokus pada hari ini." Nggak ada rencana lima tahun, nggak ada peta jaringan relasi yang harus dibangun. Cuma pengingat sederhana: jadilah yang terbaik persis di tempat kamu berpijak sekarang.

Kebanyakan dari kita memperlakukan pekerjaan sekarang kayak ruang tunggu — mata selalu ke kereta berikutnya, sampai lupa satu hal penting: nilai kamu di masa depan itu dibangun dari nilai yang kamu ciptakan hari ini. Beberapa hal simpel yang bisa langsung dipraktikkan:

  • Selesaikan hal yang orang lain males urus. Mulai dari yang kecil — cari satu masalah yang bikin timmu pusing, atau satu hal yang bikin atasanmu gemas, terus beresin diam-diam, dengan hati-hati dan penuh perhitungan.
  • Pakai semua "kecerdasan" yang kamu punya — kecerdasan buatan, kecerdasan emosional, keahlian teknis — tapi arahkan semuanya ke pekerjaan yang ada di depan mata sekarang, bukan ke jabatan impian yang masih di awang-awang.
  • Bangun reputasi, bukan cuma CV. Kesempatan berikutnya jarang datang dari selembar dokumen. Ia datang dari bagaimana orang-orang mengingat cara kamu bekerja bersama mereka.

Menguasai apa yang ada di depan mata itu punya cara sendiri untuk "diperhatikan" oleh masa depan — pelan-pelan tapi pasti. Kalau kamu suka pendekatan yang lebih tenang dan nggak buru-buru begini, melakukan lebih sedikit demi hasil maksimal juga membahas kenapa strategi "kurangi, tapi fokus" ini justru lebih efektif dibanding sekadar sibuk ke sana kemari.


banner layanan asisten virtual: Rizal IT Consulting


2. Nggak Semua yang Kelihatan Itu Beneran Berharga

Kaya raya tapi miskin waktu itu bukan kemakmuran — itu penjara dengan jeruji emas.

Pelajaran ini datang dari seorang CEO yang memimpin perusahaan bernilai miliaran dolar. Dia sudah lebih kaya dari yang pernah dia bayangkan waktu masih muda dulu. Waktu ditanya kapan dia mau mulai santai, jawabannya: dia masih pengin lebih. Pengin angka nol yang lebih banyak lagi di rekeningnya. Sampai suatu hari, perusahaannya oleng, dan miliaran dolar nilainya lenyap dalam semalam. Kalau saja dia mencairkan sahamnya lebih awal, dia bisa pulang membawa ratusan juta dolar. Yang terjadi malah sebaliknya — dia pulang nyaris tanpa apa-apa.

Beberapa bulan kemudian, sambil ngobrol santai ditemani minuman, dia cerita sesuatu yang bikin hati ngilu: hampir semua orang yang dia kenal sudah menghilang dari hidupnya, kecuali dua teman lama dari masa kuliah. Nasihatnya sederhana — begitu kamu sudah punya cukup, berhentilah mengejar lebih.

Kita semua gampang tergoda ngejar hal-hal yang kelihatan, karena orang lain juga bisa melihatnya — saldo rekening, mobil keren, jabatan mentereng. Gampang dihitung, gampang dipamerkan. Makanya kita semua rentan terjebak di situ. Riset soal para pekerja berpenghasilan tinggi berkali-kali menemukan bahwa sebagian besar dari mereka justru merasa kekurangan waktu, walau dari luar kelihatan serba berkecukupan — pengingat bahwa uang dan status nggak otomatis "membeli" kebebasan, kecuali kamu memang sengaja memprioritaskannya.

Tiga pertanyaan yang layak kamu tanyakan ke diri sendiri secara rutin:

  1. Seberapa banyak waktu yang benar-benar kamu habiskan bersama orang-orang yang kamu sayangi?
  2. Seberapa sering kamu benar-benar tertawa lepas bareng pasangan, anak, atau sahabat dekat?
  3. Berapa hari dalam seminggu kamu sungguh-sungguh berhenti sejenak untuk merasa bersyukur dan bahagia?

Kalau kamu ngerasa jawaban di atas bikin agak nyesek, kamu nggak sendirian. Banyak yang baru sadar soal ini justru setelah "kesibukan" mereka ternyata cuma kesibukan yang cuma kelihatan produktif doang, tanpa benar-benar mendekatkan mereka pada hal-hal yang mereka pengin capai. Bahkan riset soal kebahagiaan jangka panjang, seperti yang dibahas di menghabiskan waktu bersama orang tersayang, juga menyimpulkan hal serupa: hubungan yang hangat jauh lebih menentukan kebahagiaan hidup dibanding tumpukan pencapaian.

3. Feedback Cuma "Nyampe" Kalau Cara Ngasihnya Benar

Kata-kata yang benar pun bisa menghancurkan hubungan kalau disampaikan di waktu yang salah.

Waktu masih menjabat CEO sebuah perusahaan teknologi, Sandeep dulu percaya bahwa feedback yang bagus itu berarti presisi dan efisiensi. Jadi dia biasa menaruh puluhan komentar di materi presentasi yang sudah dikerjakan timnya semalaman suntuk di akhir pekan. Buat dia, itu terasa strategis dan membantu. Buat timnya, itu terasa seperti serangan mendadak. Sampai akhirnya, CFO-nya menghampiri dia di dekat lift dan bilang: komentar sebanyak itu, meski niatnya baik, bikin rasanya seperti sudah kalah duluan sebelum rapat penting bahkan dimulai.

Momen itu jadi awal lahirnya kerangka kerja lima langkah yang dia sebut "trust loop" — semacam "loop kepercayaan" yang perlu dibangun sebelum kasih masukan, supaya feedback benar-benar terasa sebagai dukungan, bukan kritikan:

  1. Sampaikan langsung, tatap muka. Bukan lewat komentar tertulis atau chat panjang. Nada bicara, empati, dan nuansa hampir mustahil bertahan kalau diterjemahkan jadi teks.
  2. Apresiasi dulu — dan harus tulus. Bukan sekadar taktik "sandwich" (puji-kritik-puji), tapi pengakuan spesifik dan jujur atas usaha serta progres yang sudah dilakukan.
  3. Klarifikasi sebelum kasih solusi. Tanya dulu, pahami dulu apa yang sebenarnya terjadi, sebelum buru-buru menawarkan jawaban.
  4. Sampaikan secara pribadi, jangan di depan umum. Koreksi di depan banyak orang jarang menghasilkan pertumbuhan — yang ada malah rasa malu dan orangnya jadi tutup diri.
  5. Bikin obrolan dua arah, bukan ceramah satu arah. Beri ruang untuk dialog, bukan sekadar menyampaikan daftar kesalahan.

Orang jarang berubah karena dikoreksi. Mereka berubah karena merasa dipahami. Kalau merasa aman, orang jadi terbuka. Kalau merasa dihakimi, mereka langsung menutup diri. Koreksi tanpa koneksi akan selalu terdengar seperti penolakan.

Ini juga sejalan dengan berbagai riset dunia kerja modern — termasuk temuan bahwa kepercayaan jadi perk paling penting dibanding fasilitas kantor semewah apa pun. Kalau fondasi kepercayaannya nggak ada, sehebat apa pun isi feedback-nya, hasilnya cuma bikin orang merasa kesepian di tempat kerja dan makin menjauh.


banner rumah edho horizontal kecil


4. Growth Mindset Bisa Jadi Jebakan Kalau Kamu Nggak Hati-Hati

Ambisi memang bikin sukses — tapi kalau dibiarkan tanpa rem, ambisi juga bisa membangun kegelisahan yang nggak pernah berhenti.

Setelah sempat hidup tanpa rumah di Mumbai, Sandeep mencurahkan setiap detik waktunya di usia 20-an dan 30-an untuk membangun karier di Boston dan New York. Rencananya kedengaran masuk akal: banting tulang dulu, nikmati hidup belakangan. Menjelang akhir usia 30-an, kebebasan finansial itu benar-benar tercapai — tapi sistem sarafnya belum "percaya" itu semua sudah selesai. Jadi dia terus saja menggenjot diri, cuma pindah ke roda hamster yang lebih kinclong dan berputar lebih kencang, sementara garis finish terus bergeser tiap kali hampir tercapai.

Masalahnya bukan pada ambisinya. Masalahnya ada di keyakinan bahwa rasa terpenuhi selalu berjarak satu pencapaian lagi — satu pencapaian terakhir yang akan "membereskan semuanya", padahal kenyataannya nggak ada satu pun pencapaian di masa depan yang benar-benar bisa melakukan itu. Riset psikolog Kristin Neff soal self-compassion menggambarkan pola ini dengan pas: kalau harga diri seseorang bergantung pada selalu lebih unggul dari orang lain, harga diri itu jadi rapuh, dan orangnya terus terjebak di treadmill perbandingan tanpa akhir.

Berusaha jadi lebih baik itu tetap penting — bukan itu masalahnya. Tapi hal itu perlu berjalan berdampingan dengan benar-benar menikmati siapa dirimu sekarang, bukan cuma sibuk mengejar versi diri yang "akan jadi". Tiga pertanyaan yang layak ditanyakan setiap minggu:

  • Apa yang aku pelajari minggu ini? (soal pertumbuhan)
  • Apa yang aku perbaiki untuk orang lain? (soal kontribusi)
  • Apa yang bikin aku tersenyum hari ini? (yang paling penting dari semuanya)

Kalau kamu ngerasa selama ini terlalu keras sama diri sendiri demi kejar target yang nggak ada habisnya, coba baca juga soal cara menghargai diri sendiri lebih baik. Dan kalau ambisi yang kamu kejar mulai terasa mengorbankan banyak hal penting lainnya, ada baiknya juga menengok ambisi yang berujung menghancurkan diri — supaya semangat naik terus itu nggak berubah jadi bumerang buat diri sendiri.



5. Waktu Rencana Berantakan, Rasa Ingin Tahu Adalah Kompas Satu-Satunya yang Masih Berfungsi

Seorang maestro musik pernah mengubah cara Sandeep memandang rasa ingin tahu versus kepastian. Suatu hari, dia datang ke kelas musik dengan persiapan penuh, siap tampil sempurna. Tapi gurunya malah menghentikannya dengan satu pertanyaan: "Instrumenmu sedang bilang apa ke kamu hari ini?" Bukan soal komposisi atau teknik — itu pelajaran soal mendengarkan, soal tetap penasaran pada insting sendiri, bukannya berpegang mati-matian pada kepastian.

Kebanyakan orang mengira sukses itu butuh rencana besar — strategi lima tahun lengkap dengan target-target yang sudah dipetakan. Perencanaan memang penting. Tapi kesempatan terbaik jarang datang dengan pemberitahuan. Ia muncul lewat proyek sampingan yang kelihatannya aneh, obrolan random, atau interaksi tak terduga yang nggak pernah kamu rencanakan sama sekali.

Hidup bukan papan catur dengan langkah-langkah yang pasti menang — hidup lebih mirip berselancar. Nggak ada yang bisa mengendalikan ombak. Kamu bisa punya rencana selancar sempurna, tapi begitu angin berubah arah dan ombak menghilang, rencana itu jadi nggak relevan lagi. Yang tersisa cuma tetap penasaran, tetap terbuka, dan menunggu ombak berikutnya datang.

Rasa ingin tahu itu kerjanya kayak bisikan — cuma kedengaran kalau pikiran cukup tenang untuk mendengarkannya. Latihan sederhana yang bisa dicoba tiap minggu: tanya pada diri sendiri apa yang benar-benar bikin penasaran, lalu ikuti benang merahnya — baca sesuatu di luar bidangmu, ajukan satu pertanyaan yang selama ini nggak pernah kamu tanyakan, atau coba satu proyek kecil tanpa harus mikirin untung-ruginya dulu. Kesempatan terbaik nggak mengetuk pintu dengan keras; ia lewat begitu saja kalau kamu nggak siap menangkapnya. Rasa ingin tahulah yang tahu di mana harus mencarinya.

Kalau kamu tipe yang biasa bikin resolusi kaku tiap tahun tapi selalu berakhir nggak jalan, mungkin ini saatnya coba pendekatan berbeda dari menetapkan tujuan hidup yang kaku — biar rasa ingin tahu punya ruang buat berkembang, bukan malah terkurung oleh target yang terlalu ketat.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Video Youtube-nyaWhat Really Happens When You Stop Chasing What Doesn’t Matter

Apa inti dari "berhenti mengejar hal yang tidak penting"? Intinya, rasa terpenuhi yang bertahan lama itu datang dari menguasai hari ini, menjaga waktu dan hubungan dengan orang terdekat, memberi feedback yang membangun kepercayaan, menyeimbangkan ambisi dengan sikap baik pada diri sendiri, dan tetap penasaran ketika rencana berubah — bukan dari terus-menerus mengejar pencapaian berikutnya yang kelihatan dari luar.

Kenapa growth mindset bisa berubah jadi jebakan? Growth mindset bisa jadi jebakan kalau harga diri seseorang jadi bergantung pada terus-menerus lebih unggul dari sebelumnya atau dari orang lain. Itu mengubah ambisi jadi kegelisahan, karena nggak ada pencapaian yang pernah terasa "cukup" untuk waktu yang lama.

Apa itu kerangka feedback "trust loop"? Ini pendekatan lima langkah untuk memberi feedback: sampaikan langsung tatap muka, apresiasi usaha secara tulus lebih dulu, klarifikasi sebelum menawarkan solusi, sampaikan secara pribadi, dan bangun obrolan dua arah — bukan sekadar daftar koreksi satu arah.

Bagaimana caranya tetap penasaran waktu rencana hidup berantakan? Jadikan rasa ingin tahu sebagai kebiasaan mingguan — tanyakan apa yang benar-benar bikin kamu penasaran saat ini, lalu ikuti itu, meski nggak ada kepastian hasilnya, ketimbang memaksakan rencana kaku yang sudah nggak relevan lagi dengan keadaan.


Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin memang bukan soal berhenti berambisi. Ini soal memilih dengan lebih sadar: hal-hal apa yang benar-benar layak dikejar, dan mana yang cuma kelihatan penting padahal cuma bikin kamu makin jauh dari kesuksesan yang sebenarnya — dan dari hidup yang lebih bermakna yang sebenarnya kamu cari sejak awal.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk pertanyaan bisnis dan pemasangan artikel promosi bisa menghubungi: 0813-8229-7207 |

 

✓ Link berhasil disalin!