Skip to main content

Pria Zaman Sekarang Makin Tertekan — dan Kita Pura-Pura Tidak Tahu

Data terbaru mengungkap 76,94% kasus bunuh diri di Indonesia adalah pria. Kenali penyebabnya — dari toxic masculinity hingga tekanan ekonomi — dan cara nyata yang bisa dilakukan orang-orang terdekat untuk membantu.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Hikmah & Motivasi
Ilustrasi Pria Yang Stres dan Cemas
Ilustrasi Pria Yang Stres dan Cemas

Sejak kecil, banyak dari kita — para pria — sudah dicetak untuk tidak boleh rapuh. Tidak boleh menangis. Tidak boleh lemah. Frasa-frasa seperti "Kamu anak laki-laki, jangan cengeng," atau "Masa cowok nangis?" mungkin terdengar familiar — diucapkan oleh orang tua, guru, bahkan teman sebaya.

Itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah cetak biru mental yang kita bawa bertahun-tahun.

Dan cetak biru itu, rupanya, sedang berbalik menghantam kita keras-keras.


DAFTAR ISI

Fakta yang Tidak Banyak Dibicarakan

Selama ini, anggapan umum menyebut bahwa perempuan lebih rentan terhadap depresi dibanding pria. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun pernah mencatat hal serupa. Tapi penelitian terbaru mulai membalik narasi itu.

Riset dari University of Michigan mengungkapkan bahwa pria justru lebih rentan mengalami depresi, dan lebih mudah terpicu oleh berbagai tekanan (stressor) yang berlangsung dalam jangka panjang. Di Indonesia sendiri, data menunjukkan pola yang tidak bisa diabaikan.

Menurut data Riskesdas 2018, sekitar 12 juta orang di Indonesia hidup dengan depresi. Dan yang sering terlewat dari percakapan publik: prevalensi depresi di Indonesia lebih tinggi di wilayah perkotaan (6,5%) dibandingkan pedesaan (5,4%), dan lebih banyak menyerang kelompok usia 45 tahun ke atas. Kelompok usia produktif — kelompok di mana sebagian besar pria sedang berjuang mencari nafkah — justru berada di garis depan tekanan ini.


Ketika Diam Menjadi Bom Waktu

Yang membuat persoalan ini makin berat adalah kenyataan bahwa banyak pria tidak tahu — atau tidak mau — mengakui bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.

Para psikolog menyebutnya toxic masculinity: serangkaian norma sosial yang memaksa pria tampil kuat seterusnya, tidak peduli kondisi batinnya.

Di Indonesia, frasa-frasa seperti "Pria itu tidak boleh menangis," "Pria itu harus kuat, jangan lemah," dan "Pria itu harus melawan, jangan diam aja," masih kerap terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Dr. Ike Herdiana, M.Psi., psikolog dari Universitas Airlangga, kondisi ini justru bisa membuat pria kehilangan harga diri dan bingung dengan kemampuan dirinya.

Akibatnya? Laki-laki lebih jarang mengekspresikan emosi dibandingkan perempuan, sehingga gejala stres atau depresi pada pria sulit dideteksi. Berbeda dengan perempuan yang cenderung lebih ekspresif dan menunjukkan tanda-tanda sebelum kondisi memburuk, laki-laki lebih sulit untuk diamati gejalanya.

Riset dari British Journal of Psychiatry memperkuat ini: pria yang depresi kerap menampilkan gejala "atipikal" — gampang marah, impulsif, menarik diri dari pergaulan, atau melampiaskan emosi lewat alkohol. Bukan menangis, bukan curhat. Malah sebaliknya.


Layanan virtual assistant


Angka yang Mestinya Bikin Kita Terhenti Sejenak

Bagian paling menyakitkan dari diskusi ini adalah datanya.

Kasus bunuh diri di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dari sekitar 640 kasus pada 2020, angkanya melonjak menjadi 1.288 kasus di tahun 2023. Itu berarti hampir 4 nyawa setiap hari.

Dan siapa yang paling banyak terdampak? Para pria.

Data Daily Operation Reporting System Polri menunjukkan bahwa dari Januari hingga Agustus 2024, sebanyak 714 pria melakukan bunuh diri — mencakup 76,94 persen dari total kasus yang tercatat. Sementara secara global, WHO mencatat lebih dari 700.000 kematian akibat bunuh diri setiap tahun — dan laki-laki menyumbang angka hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding perempuan.

Menurut psikolog Iyulen Pebry Zuanny, toxic masculinity memperbesar risiko perilaku bunuh diri karena mendorong laki-laki untuk menyimpan masalah mereka sendiri. Ketika kontrol diri melemah, tekanan itu mudah beralih ke tindakan negatif seperti penyalahgunaan narkotika, bahkan bunuh diri.


Akar Masalahnya Lebih Dalam dari yang Kita Sangka

Beban Ganda sebagai Pencari Nafkah

Secara budaya — dan dalam banyak tradisi agama — pria memang diposisikan sebagai bread winner, tulang punggung keluarga. Ketika masih lajang, ada ekspektasi dari orang tua. Begitu menikah, ekspektasi itu berlipat ganda: dari istri, dari anak, dari mertua.

Yang memperparah situasi: pasar kerja makin kompetitif. Berdasarkan data BPS 2024, persentase tenaga kerja laki-laki mencapai 45,81%, sementara perempuan 36,32%. Banyak posisi yang dulu hampir selalu diisi pria, kini semakin terbuka untuk semua. Ini bukan masalah. Tapi bagi sebagian pria yang identitasnya terlalu terikat dengan peran bread winner, pergeseran ini terasa seperti kehilangan pijakan.


banner rumah edho horizontal kecil


Tekanan Ekonomi yang Tak Tertanggung Sendiri

Biaya hidup naik. Biaya pendidikan anak tidak murah. Tagihan, cicilan, dan kebutuhan sehari-hari terus berdatangan. Semua ini harus ditanggung — dan dalam banyak kasus, ditanggung diam-diam.

Pria yang menanggung beban ini sendirian, tanpa support system yang kuat, sangat rentan jatuh ke lubang yang dalam.


Tanda-Tanda yang Sering Kita Abaikan

Pria yang sedang dalam tekanan berat tidak selalu terlihat seperti orang yang sedang menangis di pojokan kamar. Justru sebaliknya. Perhatikan tanda-tanda ini:

  • Mudah tersulut emosi — marah atas hal-hal kecil yang dulu tidak dipermasalahkan
  • Menarik diri — tiba-tiba sering menyendiri, jarang kumpul, susah diajak ngobrol
  • Lari ke aktivitas pelarian — terlalu sering main game sampai subuh, atau tiba-tiba sering keluar malam tanpa jelas
  • Impulsif — keputusan-keputusan mendadak yang tidak biasa
  • Konsumsi alkohol atau rokok meningkat drastis

Kalau kamu melihat tanda-tanda ini pada suami, saudara laki-laki, atau teman dekat — jangan diabaikan.


Apa yang Bisa Kita Lakukan?

[Bagi Dua: Formula untuk Melewati Depresi|ketika seseorang sedang di titik terendah hidupnya] — hal pertama yang dibutuhkan bukan solusi instan. Yang dibutuhkan adalah ada yang peduli.

Berikut langkah-langkah konkret yang bisa dimulai hari ini:

1. Buka Dialog — Tanpa Menghakimi

Ajak bicara para pria di sekitarmu: suami, kakak, adik, atau sahabat lama. Tidak perlu sesi konseling formal. Cukup mulai dengan pertanyaan sederhana: "Lo lagi oke nggak?" — dan benar-benar mendengarkan jawabannya.

Yang paling penting: jaga marwah mereka. Jangan menjatuhkan status mereka sebagai kepala keluarga di tengah percakapan. Pria lebih mudah terbuka ketika merasa dihargai, bukan diremehkan.

2. Tumbuhkan Rasa Aman untuk Minta Bantuan

Datang ke psikolog, psikiater, atau ustadz bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah tanda kecerdasan emosional. [Terapi Memang Harus Sulit dan AI Tak Bisa Menggantikannya|mencari bantuan profesional adalah langkah yang berani] — dan semakin banyak pria yang perlu mendengar kalimat ini.

Bantu lingkungan sekitarmu memahami bahwa meminta tolong itu bukan aib.



3. Bangun Support System di Rumah

Jika seseorang mengalami masalah kesehatan mental akibat tekanan sosial dan toxic masculinity, penanganan sedini mungkin dapat mencegah kondisi bertambah parah.

Orang tua dan pasangan punya peran kunci di sini. Kurangi tuntutan yang tidak perlu. Dalam kondisi sulit secara ekonomi, bukan berarti istri harus diam dan menumpuk ekspektasi. Saling memahami adalah bentuk kasih sayang yang nyata.

Allah Ta'ala sendiri sudah memberikan keringanan bagi mereka yang sedang dalam kesulitan:

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya." (QS. Ath-Thalaq: 7)

4. Dorong Bergabung dengan Komunitas yang Menguatkan

Majelis pengajian, komunitas sosial, kelompok olahraga bersama — semua ini bisa menjadi ruang bagi pria untuk bertukar cerita, melepaskan tekanan, dan mendapat perspektif baru. [Kesepian di Tempat Kerja Ternyata Lebih Berbahaya dari Yang Kita Kira|isolasi sosial pada pria] adalah salah satu pemicu terbesar depresi. Komunitas yang sehat adalah tamengnya.

5. Perbanyak Ibadah dan Koneksi Spiritual

Bagi yang muslim, rutinitas ibadah seperti salat berjamaah di masjid, salat dhuha, zikir, dan tilawah bukan sekadar kewajiban ritual. Ini adalah reset jiwa yang terbukti memberikan ketenangan batin.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'du: 28)


Kita Semua Punya Andil

Krisis kesehatan mental pria bukan sekadar isu personal. Ini adalah isu sosial yang butuh respons kolektif. [Sudah Produktif Seharian, tapi Tetap Cemas? Psikologi Bilang 5 Kebiasaan Mental Ini Penyebabnya|produktivitas tanpa kesehatan mental yang kuat] tidak akan bertahan lama.

Mulai dari hal kecil: tanya kabar dengan sungguh-sungguh. Dengarkan tanpa buru-buru memberi solusi. Hargai keberanian mereka yang mau bercerita.

Karena diam yang terlalu lama — dalam kesendirian yang tak tertanggungkan — bisa berujung pada sesuatu yang tidak bisa kita tarik kembali.


Jika kamu atau orang terdekatmu sedang dalam kondisi krisis, Into The Light Indonesia bisa dihubungi di 119 ext. 8 (Hotline Kemenkes RI), atau kunjungi Into The Light Indonesia untuk informasi lebih lanjut.


Diadaptasi dari tulisan Iwan Januar, yang dimuat di iwanjanuar.com, pada 23 Juli 2025.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!