Skip to main content

4 Makam Wali dan Ulama di Lampung: Panduan Ziarah Lengkap dengan Rute, Adab, dan Waktu Terbaik

Panduan ziarah makam wali di Lampung: Raden Intan II, Tubagus Sangkrah, Tubagus Yahya, dan Tubagus Makdum, lengkap dengan rute, adab, dan waktu terbaik.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Jalan-jalan
Ilustrasi Makam Raden Inten II, Lampung
Ilustrasi Makam Raden Inten II, Lampung

Di ujung selatan Pulau Sumatra, jejak panjang penyebaran Islam masih terasa sampai hari ini. Ada kompleks makam pahlawan nasional yang berdiri tenang di kaki Gunung Rajabasa, ada pula makam ulama yang terasnya bersentuhan langsung dengan bibir laut. Semua itu membuat makam wali di Lampung menawarkan pengalaman yang jarang ditemukan di destinasi lain: sejarah, ketenangan, dan bahan renungan dalam satu perjalanan.

Artikel ini merangkum empat titik ziarah makam wali dan ulama di Lampung yang paling sering dikunjungi: makam Raden Intan II, Syekh Tubagus Sangkrah, Syekh Tubagus Yahya, dan Tubagus Makdum. Setiap bagian memuat lokasi, kondisi makam, riwayat singkat tokohnya, cara menuju lokasi, sampai adab yang perlu dijaga. Data penting sudah dicocokkan dengan sumber resmi dan pemberitaan terbaru.

Jawaban singkat: Empat makam utama yang layak masuk daftar wisata religi di Lampung adalah makam Raden Intan II di Penengahan (Lampung Selatan), makam Syekh Tubagus Yahya dan makam Tubagus Makdum di Bandar Lampung, serta makam Syekh Tubagus Sangkrah di pesisir Pesawaran. Dari Pulau Jawa, perjalanan dimulai dengan kapal Merak–Bakauheni (sekitar 1–2 jam), dilanjutkan lewat jalan tol atau Jalan Lintas Sumatra. Siapkan dua hari agar perjalanan tidak terburu-buru.


Banner Layanan Asisten Virtual
Banner Layanan Asisten Virtual


DAFTAR ISI

Ringkasan 4 Makam Wali dan Ulama di Lampung

MakamLokasiDikenal sebagaiWaktu ramai
Raden Intan II (Benteng Cempaka) Desa Gedung Harta, Penengahan, Lampung Selatan Pahlawan nasional yang melawan Belanda Haul setiap 5 Oktober
Syekh Tubagus Sangkrah Desa Sukajaya Lempasing, Teluk Pandan, Pesawaran Ulama penyebar Islam di pesisir Teluk Lampung Akhir pekan dan libur panjang
Syekh Tubagus Yahya Jalan Banten, Kuripan, Telukbetung Barat, Bandar Lampung Ulama pengajar Al-Qur'an, wafat 1930 Rajab, Sya'ban, Ramadan, Syawal, Maulid
Tubagus Makdum Jalan Yos Sudarso, Garuntang, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung Ulama penyebar Islam asal Jawa pada abad ke-18 Malam Jumat dan hari besar Islam

Mengapa Lampung Menjadi Tujuan Wisata Religi?

Lampung berada di gerbang selatan Sumatra, tepat di seberang Selat Sunda dari Banten. Letak ini membuat daerah tersebut menjadi salah satu pintu masuk Islam ke Pulau Sumatra. Catatan sejarah lokal menyebut pengaruh Islam masuk dari arah selatan melalui jalur Banten, dengan tokoh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati yang disebut hadir di wilayah Keratuan Pugung pada sekitar tahun 1525.

Jejak hubungan Banten dan Lampung itu masih terlihat dari nama-nama ulama yang dimakamkan di sini. Gelar "Tubagus" lazim dipakai kalangan bangsawan Banten, dan sebagian riwayat mengaitkan para ulama bergelar Tubagus di Lampung dengan keturunan Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Kesultanan Banten. Sementara itu, Raden Intan II tercatat sebagai keturunan Fatahillah. Karena silsilah dan kisah para tokoh ini banyak diwariskan secara lisan oleh juru kunci dan masyarakat sekitar, versi cerita di lapangan bisa berbeda-beda. Pembaca yang ingin mendalami sejarahnya disarankan membandingkan beberapa sumber.

Bagi pencinta wisata halal, Lampung juga menjadi bagian dari peta destinasi muslim di Indonesia. Gambaran umumnya bisa dibaca pada ulasan tentang provinsi destinasi wisata halal unggulan Indonesia, yang memperlihatkan bagaimana wisata ziarah, kuliner, dan masjid bersejarah saling melengkapi.

Cara Menuju Lampung untuk Ziarah

Dari Pulau Jawa: Kapal Merak–Bakauheni

Jalur darat dari Jawa berujung di Pelabuhan Merak, Banten. Dari sana, kapal feri menyeberangi Selat Sunda menuju Pelabuhan Bakauheni di Lampung Selatan. Pelabuhan di kedua sisi beroperasi 24 jam. Lama penyeberangan umumnya sekitar 2 jam untuk kapal reguler dan sekitar 1 jam untuk layanan ekspres, tergantung cuaca dan antrean sandar.

Tiket penyeberangan Merak–Bakauheni kini wajib dipesan secara daring lewat Ferizy, layanan resmi PT ASDP Indonesia Ferry. Penjualan tiket di pelabuhan sudah ditiadakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Check-in hanya bisa dilakukan sesuai jam yang tertera pada e-tiket. Tiket hangus jika jam check-in terlewat.
  • Kartu identitas dan nomor polisi kendaraan harus sesuai dengan data di e-tiket.
  • Sebagai gambaran, tarif reguler 2026 untuk penumpang tanpa kendaraan berada di kisaran Rp22.700, sedangkan mobil pribadi (golongan IV) sekitar Rp480.000-an. Tarif bisa berubah sewaktu-waktu, jadi cek angka terbaru di Ferizy sebelum berangkat.

Selama di Banten, waktu singgah yang longgar bisa dimanfaatkan untuk menjelajah daerah sekitar. Referensinya ada pada tujuan wisata favorit di Banten lainnya.

Dari Bakauheni: Tol Trans Sumatra

Dari Bakauheni, perjalanan ke Bandar Lampung paling cepat ditempuh lewat Tol Bakauheni–Terbanggi Besar. Ruas sepanjang sekitar 140 kilometer ini memiliki gerbang tol Itera Kota Baru di kilometer 78,6 yang menjadi pintu masuk utama ke Bandar Lampung. Dalam kondisi lalu lintas lancar, Bakauheni sampai Bandar Lampung bisa ditempuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. Rute non-tol lewat Jalan Lintas Sumatra jauh lebih lambat karena kontur menanjak dan banyak tikungan.

Lewat Udara

Peziarah dari kota yang jauh bisa terbang langsung ke Bandara Radin Inten II di kawasan Branti, Natar, Lampung Selatan. Bandara ini memakai nama tokoh yang makamnya menjadi titik ziarah pertama dalam artikel ini. Untuk tips perilaku di dalam kabin, tersedia ulasan norma tak tertulis saat naik pesawat.

1. Makam Raden Intan II (Benteng Cempaka), Lampung Selatan

Lokasi dan Cara Menuju

Makam Raden Intan II Lampung Selatan berada di Desa Gedung Harta, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Kawasan ini dikenal dengan nama Benteng Cempaka dan berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Kalianda, atau kira-kira setengah jam berkendara. Informasi resmi destinasi ini juga tersedia di laman makam Raden Intan II Lampung Selatan milik Dinas Pariwisata Lampung Selatan.

Peziarah yang tidak membawa kendaraan sendiri bisa memakai ojek atau taksi dari Kalianda. Pada laporan media lokal tahun 2021, ongkosnya berkisar Rp50.000 sampai Rp100.000, namun angka tersebut perlu dicek ulang karena bisa sudah berubah. Lokasi paling mudah dicari lewat aplikasi peta dengan kata kunci "Makam Pahlawan Radin Inten II".

Siapa Raden Intan II?

Nama tokoh ini ditulis dalam dua ejaan: Raden Intan II dan Radin Inten II. Ejaan terakhir dipakai pada nama bandara dan dokumen resmi. Beliau lahir pada 1834 dan dinobatkan sebagai pemimpin Keratuan Darah Putih pada usia 16 tahun. Ayahnya, Radin Imba II, ditangkap Belanda dan dibuang ke Pulau Timor ketika beliau masih dalam kandungan.

Perlawanan Raden Intan II terhadap Belanda berlangsung bertahun-tahun, dengan benteng-benteng pertahanan di sekitar Gunung Rajabasa. Menurut catatan sejarah, beliau gugur pada 5 Oktober 1856 dalam usia sekitar 22 tahun setelah diperdaya oleh seorang kerabat yang berpihak kepada Belanda. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1986.

Kondisi Makam dan Fasilitas

Di gerbang masuk, peziarah disambut patung megah Raden Intan II yang menjadi ikon kawasan. Pada sisi kiri dan kanan area gerbang terdapat diorama yang mengisahkan perjuangan beliau. Gundukan tanah di belakang patung dipercaya dahulu berfungsi sebagai benteng pertahanan.

Kompleks makam terawat dengan baik. Area makam dikelilingi pagar dan bangunan khas. Batu nisannya dicat kuning keemasan dengan ukiran unik, sementara pada dinding terdapat ukiran burung garuda dan lukisan sosok beliau. Di bagian bawah dinding tertulis tanggal pembangunan makam. Kompleks ini pernah dipugar pada 1980–1983 dan diresmikan pada 10 Juli 1984. Di dalam kawasan juga ada museum mini yang menyimpan benda peninggalan semasa beliau hidup, sebagaimana diulas dalam diorama, patung, dan museum mini di makam Radin Inten II.

Pengelola menyediakan area parkir untuk kendaraan pribadi. Suasana desa di sekitarnya tenang, sehingga cocok untuk berdoa dan merenungi perjuangan beliau tanpa tergesa-gesa.

Waktu Terbaik

Puncak keramaian terjadi pada Haul Raden Intan II yang diperingati setiap 5 Oktober. Bagi yang ingin berziarah dengan suasana lebih sepi, hari biasa pada pagi hari adalah pilihan terbaik. Belum ada jam operasional resmi yang dipublikasikan, jadi sebaiknya datang pada siang hari agar pengelola atau juru kunci masih berada di lokasi.

2. Makam Syekh Tubagus Sangkrah, Pesawaran

Lokasi dan Akses

Makam Syekh Tubagus Sangkrah Pesawaran berada di Desa Sukajaya Lempasing, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, di bibir Teluk Lampung. Beberapa pemberitaan lama menulis lokasinya di Kecamatan Padang Cermin, karena Teluk Pandan baru berdiri sebagai kecamatan sendiri setelah pemekaran pada 2014. Lokasinya berdekatan dengan kawasan Pantai Queen Artha dan Pulau Permata.

Dari Jalan Laksamana R.E. Martadinata, peziarah menyusuri jalan kampung sekitar 500 meter menuju makam. Pada musim hujan, jalan ini bisa becek dan berlumpur, sehingga alas kaki yang mudah dibersihkan akan sangat membantu. Area parkirnya luas dan mampu menampung banyak bus, meski masih berupa tanah tanpa lapisan beton atau aspal.

Suasana Makam

Kompleks makam berada di tempat yang asri dengan pepohonan rindang. Cungkup makam memakai bangunan permanen berbahan genteng, dan teras makamnya langsung bersentuhan dengan bibir laut, detail yang membuat suasana ziarah terasa berbeda dari makam di daratan. Di dalam cungkup, sebuah pohon besar dibiarkan tumbuh menembus atap. Sebagian batangnya dibungkus kain putih, dan di bawah pohon itulah nisan Syekh Tubagus Sangkrah berada.

Kondisi makam tergolong terawat. Fasilitas toilet dan kamar mandi di sekitar makam dilaporkan belum tertata baik, sehingga peziarah dianjurkan memanfaatkan fasilitas di tempat singgah sebelumnya.

Siapa Syekh Tubagus Sangkrah?

Beliau dikenal sebagai ulama besar yang menyebarkan Islam di wilayah Lampung dan banyak dikisahkan memiliki karamah. Riwayat hidup dan silsilahnya lebih banyak dituturkan secara lisan oleh pengurus makam dan masyarakat setempat, sehingga ada beberapa versi cerita. Hal ini wajar untuk tokoh pada masa awal penyebaran Islam yang minim catatan tertulis.

Wisata Pendamping

Salah satu keunggulan lokasi ini adalah paduan ziarah dan wisata pesisir. Pengunjung dari luar daerah melaporkan bisa berziarah, berkeliling Pulau Permata dengan perahu, lalu menikmati ikan bakar bersambal kecap di sekitar lokasi. Menurut laporan makam Syekh Tubagus Sangkrah Pesawaran yang dimuat media lokal, kawasan ini ramai dikunjungi keluarga pada akhir pekan dan libur Lebaran. Pilihan destinasi lain di provinsi ini bisa dilihat pada destinasi tersembunyi lain di Lampung.

3. Makam Syekh Tubagus Yahya, Bandar Lampung

Lokasi dan Akses

Makam Syekh Tubagus Yahya Bandar Lampung terletak di Jalan Banten, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Telukbetung Barat. Masyarakat setempat juga menyebutnya Makam Kramat Baru, mengikuti nama kampung tempat beliau dimakamkan. Lokasinya mudah dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Kompleks makam tidak memiliki lahan parkir khusus yang luas. Rombongan bus besar umumnya memarkir kendaraan di tepi jalan raya, sehingga perlu koordinasi agar tidak mengganggu lalu lintas. Untuk perjalanan berombongan, memilih jam kunjungan yang tidak terlalu padat akan lebih nyaman.

Siapa Syekh Tubagus Yahya?

Menurut juru kunci dan berbagai pemberitaan, beliau adalah ulama musafir asal tanah Jawa yang sempat tinggal di Bogor sebelum hijrah ke Lampung sekitar awal tahun 1900-an. Beliau berdakwah lewat pengajian dan pengajaran Al-Qur'an berbasis pesantren, serta dikenal sering membantu masyarakat yang sakit melalui air putih yang didoakan. Beliau wafat pada 1930 karena sakit dan dimakamkan di Kuripan. Sebagian riwayat menyebut beliau berasal dari garis keturunan Sultan Hasanuddin Banten, meski hal ini masih berupa tutur yang diwariskan lisan.

Nama makam ini sudah dikenal sejak masa kolonial. Dalam cerita yang beredar, pemerintah Belanda menyebutnya "keramat", sebutan yang melekat hingga kini. Peziarah datang bukan hanya dari Lampung, tetapi juga dari Banten, Jawa, bahkan Malaysia.

Kondisi Makam

Bangunan makam sederhana namun kokoh. Di dalam bangunan seluas sekitar 4 x 6 meter, makam ditutup tirai kain berwarna hijau. Di sekitar kompleks ada musala yang nyaman untuk beribadah, serta beberapa pohon rindang yang menambah kesejukan. Suasananya tenang dan damai, cocok untuk berdoa dan membaca Yasin atau tahlil.

Waktu Terbaik

Makam ini paling ramai pada bulan-bulan yang dianggap istimewa oleh peziarah: Rajab, Sya'ban, Ramadan, Syawal, dan Maulid. Menjelang Ramadan dan Idulfitri, jumlah peziarah bisa membludak sehingga area sekitar makam penuh oleh mobil dan bus. Pada hari-hari biasa, pagi hari lebih lengang.

Setelah berziarah, peziarah yang lapar bisa melanjutkan perjalanan ke deretan rumah makan legendaris yang diulas pada Wisata Kuliner Halal di Bandar Lampung: 10 Legenda ≤75K|wisata kuliner halal di Bandar Lampung].

4. Makam Tubagus Makdum, Telukbetung Selatan

Lokasi dan Akses

Makam Tubagus Makdum Telukbetung Selatan berada di tepi Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Garuntang, Kecamatan Telukbetung Selatan, Kota Bandar Lampung. Kawasan ini dikenal pula sebagai daerah Kuala, tidak jauh dari pesisir. Jaraknya dari makam Tubagus Yahya sekitar 7 kilometer menurut perkiraan peziarah, sehingga keduanya mudah digabung dalam satu rute.

Nama tokoh ini ditulis dengan beragam ejaan di berbagai sumber, seperti Makdum, Mahdum, Machdum, dan Makhdum. Semuanya merujuk pada ulama yang sama.

Arsitektur Makam

Kompleks makam memiliki arsitektur khas dengan kubah dan kombinasi warna biru. Pintu masuknya rendah dan melengkung, sehingga pengunjung perlu menunduk saat masuk. Cungkup makam dibuat dari tralis besi dan ditutup kain kelambu hijau dengan list kuning. Nisan makamnya terbuat dari batu marmer berhias kaligrafi yang indah. Menurut catatan lokal, bangunan makam pernah dipugar pada 1983.

Siapa Tubagus Makdum?

Tubagus Makdum dikenal sebagai ulama musafir dari tanah Jawa yang tiba di Lampung pada awal 1700-an dan berpindah-pindah untuk berdakwah, terutama di wilayah Teluk Betung. Menurut juru kunci, beliau wafat sekitar akhir 1700-an. Dalam dakwahnya, beliau dikisahkan menekankan pengamalan Al-Qur'an, antara lain pembacaan surat Yasin.

Tutur yang berkembang di masyarakat menyebut beliau memiliki karamah, salah satunya dapat menghentikan hujan dengan menancapkan tongkat ke tanah. Kisah ini termasuk cerita lisan, bukan catatan sejarah tertulis. Setelah wafat, makamnya menjadi tujuan ziarah yang ramai, terutama pada malam Jumat dan hari besar Islam.


banner rumah edho horizontal kecil


Rute Ziarah Makam Wali di Lampung yang Efisien

Dari sisi geografis, urutan paling efisien untuk rute ziarah makam wali di Lampung adalah bergerak dari selatan ke utara lalu ke barat:

  1. Pelabuhan Bakauheni, sebagai titik awal setelah menyeberang dari Merak.
  2. Makam Raden Intan II di Penengahan, Lampung Selatan.
  3. Makam Syekh Tubagus Yahya di Kuripan, Telukbetung Barat.
  4. Makam Tubagus Makdum di Garuntang, Telukbetung Selatan.
  5. Makam Syekh Tubagus Sangkrah di Lempasing, Pesawaran, sekaligus menikmati pesisir Teluk Lampung.

Dua hari adalah durasi yang ideal. Hari pertama difokuskan pada Raden Intan II dan dua makam di Bandar Lampung, sedangkan hari kedua untuk makam Tubagus Sangkrah dan wisata pesisir. Waktu perjalanan antartitik sangat dipengaruhi kepadatan lalu lintas Bandar Lampung, jadi sisakan jeda yang longgar.

Bagi yang ingin memperluas pengalaman ziarah ke daerah lain, tersedia ulasan panduan ziarah makam wali di Madura serta daftar makam habib dan wali di Jakarta.

Adab Ziarah Makam Wali yang Perlu Dijaga

Adab ziarah makam wali bukan sekadar formalitas. Ia menjaga kekhusyukan peziarah sekaligus menghormati para tokoh yang dimakamkan dan masyarakat sekitar. Beberapa adab yang dianjurkan:

  • Meluruskan niat. Tujuan utama ziarah adalah mendoakan ahli kubur dan mengingat kematian, bukan mencari hal lain.
  • Berwudu dan berpakaian sopan. Kenakan pakaian yang menutup aurat dan rapi, sebagai bentuk penghormatan.
  • Mengucapkan salam. Saat memasuki area makam, ucapkan salam kepada ahli kubur lalu doakan ampunan bagi mereka.
  • Membaca doa dan ayat Al-Qur'an. Tradisi yang lazim di Lampung adalah membaca Al-Fatihah, Yasin, tahlil, dan zikir, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada ahli kubur.
  • Tidak duduk, menginjak, atau makan di atas makam. Pilih tempat duduk yang disediakan di sekitar cungkup.
  • Menyampaikan permohonan hanya kepada Allah. Para ulama menegaskan bahwa hajat dan doa ditujukan kepada Allah, bukan kepada penghuni kubur.
  • Menjaga suara dan kebersihan. Hindari bicara keras, tertawa berlebihan, atau membuang sampah sembarangan.
  • Mengikuti arahan juru kunci. Terutama pada kompleks yang dijaga pengurus, seperti makam Tubagus Makdum.
  • Memotret dengan sopan. Minta izin jika ingin mengambil foto, dan hindari mengambil foto peziarah lain tanpa izin.
  • Menyisihkan infak seikhlasnya. Dana ini umumnya dipakai untuk perawatan makam.

Bagi yang berminat pada wisata religi berupa masjid bersejarah, tersedia pula rujukan masjid ikonik untuk wisata religi di Indonesia.

Waktu Terbaik Berziarah ke Makam Wali di Lampung

Menentukan waktu terbaik berziarah ke makam wali di Lampung bergantung pada tujuan. Berikut ringkasannya:

  • Ingin suasana khusyuk dan lengang: datang pada pagi hari kerja di luar bulan-bulan ramai.
  • Ingin merasakan nuansa haul dan keramaian peziarah: datang pada 5 Oktober untuk Haul Raden Intan II, atau pada Rajab, Sya'ban, Ramadan, Syawal, dan Maulid untuk makam Tubagus Yahya.
  • Ingin menghindari jalan becek: pilih musim kemarau, terutama untuk akses ke makam Tubagus Sangkrah yang berlumpur saat hujan.
  • Ingin menggabungkan wisata: akhir pekan cocok untuk Tubagus Sangkrah dan Pulau Permata, tetapi perkirakan area wisata lebih ramai.

Sebagian direktori wisata mencantumkan beberapa makam terbuka sepanjang hari. Meski begitu, berziarah pada rentang pagi sampai sore tetap lebih aman, nyaman, dan memudahkan bertemu juru kunci.

Tips Praktis Sebelum Berangkat

  • Siapkan uang tunai pecahan kecil untuk parkir, infak, dan jajanan. Belum ada tarif tiket resmi yang dipublikasikan di keempat makam, jadi pemberian bersifat sukarela.
  • Pesan tiket kapal jauh hari melalui Ferizy, terutama saat libur panjang, dan hindari calo. Modus penipuan yang kerap menyasar pelancong dibahas pada penipuan umum yang menyasar wisatawan.
  • Berkendara dengan istirahat cukup. Perjalanan jauh lintas pulau menuntut kewaspadaan, seperti dibahas dalam kebiasaan kecil yang menyelamatkan nyawa di jalan.
  • Bawa perlengkapan ibadah seperti sajadah kecil, air minum, dan buku Yasin, serta alas kaki yang mudah dibersihkan.
  • Hormati warga sekitar. Sebagian makam berada di tengah permukiman, jadi atur parkir dan volume suara dengan baik.
  • Cek kondisi terbaru. Fasilitas, akses jalan, dan tarif dapat berubah. Hubungi pengurus makam atau dinas pariwisata setempat jika perlu kepastian.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ada berapa makam wali dan ulama yang populer di Lampung?

Terdapat banyak makam ulama di Lampung, tetapi empat yang paling sering dikunjungi dalam satu rute adalah makam Raden Intan II, Syekh Tubagus Sangkrah, Syekh Tubagus Yahya, dan Tubagus Makdum.

Di mana lokasi makam Raden Intan II?

Makam Raden Intan II berada di Desa Gedung Harta, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, di kawasan yang dikenal sebagai Benteng Cempaka. Jaraknya sekitar 18 kilometer dari Kota Kalianda.

Kapan Raden Intan II wafat dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional?

Beliau gugur pada 5 Oktober 1856 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1986. Tahun 1834 adalah tahun kelahirannya.

Berapa lama penyeberangan Merak ke Bakauheni?

Kapal reguler umumnya sekitar 2 jam, sedangkan layanan ekspres sekitar 1 jam. Durasi aktual dapat bertambah karena cuaca atau antrean sandar.

Apakah tiket kapal Merak–Bakauheni dijual di pelabuhan?

Tidak. Tiket wajib dipesan daring lewat Ferizy sebelum keberangkatan, dan check-in harus dilakukan sesuai jam pada e-tiket.

Apakah ada tiket masuk ke makam wali di Lampung?

Belum ada tarif tiket resmi yang dipublikasikan untuk keempat makam ini. Biasanya hanya ada biaya parkir dan infak sukarela.

Apa perbedaan Tubagus Yahya dan Tubagus Makdum?

Keduanya ulama bergelar Tubagus yang dimakamkan di Bandar Lampung, tetapi berbeda zaman. Tubagus Makdum diperkirakan datang pada awal 1700-an dan wafat sekitar akhir 1700-an, sedangkan Tubagus Yahya datang sekitar awal 1900-an dan wafat pada 1930.

Kapan makam Tubagus Yahya paling ramai?

Makam Syekh Tubagus Yahya paling ramai pada bulan Rajab, Sya'ban, Ramadan, Syawal, dan Maulid, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Bagaimana adab ziarah makam wali yang benar?

Niatkan untuk mendoakan ahli kubur, berwudu, berpakaian sopan, ucapkan salam, bacakan doa dan ayat Al-Qur'an, jangan duduk atau menginjak makam, dan panjatkan permohonan hanya kepada Allah.

Apakah ziarah ke Lampung bisa digabung dengan wisata lain?

Bisa. Makam Tubagus Sangkrah berdekatan dengan Pulau Permata dan Pantai Queen Artha, sedangkan di Bandar Lampung tersedia banyak pilihan kuliner halal.

Penutup

Empat makam ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Lampung tidak lepas dari perjuangan para ulama dan pahlawan yang menanamkan nilai keimanan sekaligus keberanian. Dengan persiapan matang, perjalanan wisata religi di Lampung bisa menjadi paduan sejarah, doa, dan ketenangan batin yang berkesan.

Bagi yang berencana melanjutkan perjalanan lintas Sumatra, tersedia ulasan kuliner halal legendaris di Palembang untuk keluarga. Mudah-mudahan setiap langkah ziarah mendatangkan keberkahan di dunia dan di akhirat.

Sebagai referensi tambahan tentang tokoh-tokoh ulama di provinsi ini, lihat juga rangkuman ziarah makam wali dan ulama di Lampung yang disusun NU Online.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk pertanyaan bisnis dan pemasangan artikel promosi bisa menghubungi: 0813-8229-7207 | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.