9 Tempat Wisata Religi di Banten: Panduan Ziarah Makam Keramat dan Masjid Agung Lengkap dengan Rute, Adab, dan Waktu Terbaik
Panduan 9 tempat wisata religi di Banten: ziarah makam keramat, Batu Quran, Masjid Agung Banten Lama, dan museum, plus rute, jam buka, serta adab ziarah.
Pulau Jawa menyimpan begitu banyak destinasi spiritual, dan Banten termasuk yang paling kaya. Provinsi di ujung barat Jawa ini sejak lama dikenal kental dengan nilai-nilai Islam, mulai dari jejak Kesultanan Banten, pesantren-pesantren tua, sampai makam para ulama yang nyaris tak pernah sepi peziarah. Tidak heran jika wisata religi di Banten selalu menarik rombongan majelis taklim, keluarga besar, hingga pelancong yang sekadar ingin menenangkan hati. Banten juga masuk dalam jajaran provinsi destinasi wisata halal unggulan Indonesia, sehingga fasilitas ibadah dan kuliner halal relatif mudah ditemukan di sepanjang perjalanan.
Panduan ini merangkum sembilan tempat wisata religi di Banten yang paling sering dikunjungi: makam ulama dan situs keramat di Pandeglang dan Serang, dua masjid bersejarah, kompleks pemakaman sultan, serta museum di kawasan Banten Lama. Setiap lokasi dilengkapi cerita singkat, alamat, rute, dan tips kunjungan. Bagian akhir membahas jam buka, biaya, waktu terbaik, serta adab ziarah makam keramat di Banten supaya perjalanan berjalan tertib dan penuh berkah.
DAFTAR ISI
- Daftar Singkat 9 Wisata Religi di Banten
- Makam Syekh Abdul Jabbar, Ulama di Balik Berdirinya Pandeglang
- Batu Quran di Pandeglang, Situs Kolam Penuh Cerita di Kaki Gunung Karang
- Makam Syekh Maulana Mansyuruddin, Penyebar Islam di Banten Selatan
- Makam Buya Bustomi di Cisantri, Pendiri Pesantren Al-Hidayah
- Makam Syekh Muhammad Sholeh di Gunung Santri
- Masjid Agung Tanara, Jejak Dakwah di Kampung Syekh Nawawi
- Masjid Agung Banten Lama, Ikon Wisata Religi Banten
- Kompleks Pemakaman Kesultanan Banten
- Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama
- Cara Menyusun Rute Ziarah Banten dalam Satu atau Dua Hari
- Jam Buka, Biaya, dan Waktu Terbaik Ziarah ke Banten
- Adab Ziarah Makam Wali yang Perlu Diperhatikan
- Tips Praktis Sebelum Berangkat
- FAQ: Pertanyaan Seputar Wisata Religi di Banten
- Penutup
Daftar Singkat 9 Wisata Religi di Banten
- Makam Syekh Abdul Jabbar: Karangtanjung, Pandeglang
- Batu Quran: Cimanuk, Pandeglang (kaki Gunung Karang)
- Makam Syekh Maulana Mansyuruddin: Cikadueun, Pandeglang
- Makam Buya Bustomi: Kampung Cisantri, Cipeucang, Pandeglang
- Makam Syekh Muhammad Sholeh: Gunung Santri, Bojonegara, Serang
- Masjid Agung Tanara: Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang
- Masjid Agung Banten: Banten Lama, Kasemen, Kota Serang
- Kompleks Pemakaman Kesultanan Banten: Kasemen, Kota Serang
- Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama: Kasemen, Kota Serang
Enam lokasi pertama tersebar di dua wilayah berbeda, yaitu Pandeglang dan Serang bagian utara, sedangkan tiga lokasi terakhir berdekatan di kawasan Banten Lama. Pola ini berguna saat menyusun rute, dan pembahasannya ada di bagian perencanaan perjalanan.
Makam Syekh Abdul Jabbar, Ulama di Balik Berdirinya Pandeglang
Makam Syekh Abdul Jabbar berada di Kampung Pasir Kecapi, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Karangtanjung, Pandeglang, Banten. Menurut penuturan yang berkembang, Syekh Abdul Jabbar adalah salah satu ulama yang berperan dalam pembentukan Kabupaten Pandeglang bersama Sultan Syarif Hidayatullah, tokoh yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati dan ayah dari Sultan Maulana Hasanuddin.
Hal terpenting yang perlu diperhatikan sebelum berziarah ke makam Syekh Abdul Jabbar Pandeglang adalah ukuran areanya. Ruang makam hanya mampu menampung kurang lebih 20 orang dalam satu waktu. Karena itu, rombongan besar sebaiknya membagi diri ke dalam beberapa kloter, antre dengan tertib, dan menjaga suasana tetap kondusif agar peziarah lain bisa berdoa dengan khusyuk.
Rute dan akses: Karangtanjung termasuk wilayah di sekitar pusat Kota Pandeglang. Cara paling aman adalah memasukkan nama lokasi dan alamat lengkap ke aplikasi peta, lalu menyiapkan waktu tambahan karena jalan kampung yang menuju makam relatif sempit. Angkutan umum ke lokasi-lokasi ziarah di Pandeglang terbatas, sehingga mobil pribadi, motor, atau sewa kendaraan beserta sopir lokal menjadi pilihan paling praktis. Peziarah dari luar kota umumnya datang menggunakan mobil pribadi dan bus pariwisata.
Jam dan biaya: belum ada jam buka resmi yang dipublikasikan untuk makam ini. Peziarah umumnya datang dari pagi hingga sore hari. Tidak tercatat tiket masuk resmi; siapkan uang tunai pecahan kecil untuk parkir dan infak sukarela.
Batu Quran di Pandeglang, Situs Kolam Penuh Cerita di Kaki Gunung Karang
Batu Quran di Pandeglang terletak di Kecamatan Cimanuk, tepatnya di kaki Gunung Karang. Nama tempat ini berasal dari sebuah batu besar yang dipercaya pernah bertuliskan ayat suci Al-Quran. Menariknya, jika diperhatikan dengan saksama, tidak ada tulisan yang tampak di sisi batu. Masyarakat meyakini bahwa hanya orang-orang berilmu tinggi yang bisa melihat tulisan tersebut.
Kisah lain yang hidup di tengah warga menyebut lokasi ini sebagai bekas pijakan seorang syekh kenamaan, yakni Syekh Maulana Mansyuruddin. Dalam cerita tutur setempat, tempat sang syekh melaksanakan salat disebut Batu Sajadah, sedangkan Al-Quran yang konon dipakai untuk menutup derasnya air berubah menjadi batu dan dikenal sebagai Batu Quran. Wujud situsnya berupa kolam pemandian, dengan batu yang dimaksud berada di dasar kolam. Kearifan lokal membuat kolam ini terjaga dengan baik.
Rute dan akses: dari Alun-alun Pandeglang, ikuti jalur ke arah Labuan hingga pertigaan Cimanuk atau Pasar Batubatar, kemudian lanjutkan ke kampung lokasi situs. Mengingat banyak jalan desa yang bercabang, bertanya kepada warga setempat sangat membantu.
Tips: kenakan pakaian sopan dan alas kaki yang nyaman, serta bawa pakaian ganti jika berencana mendekati area kolam. Karena kisahnya berkaitan erat dengan tokoh yang dibahas di bagian berikut, banyak peziarah menggabungkan keduanya dalam satu perjalanan.
Makam Syekh Maulana Mansyuruddin, Penyebar Islam di Banten Selatan
Jika Batu Quran sudah masuk daftar, rasanya kurang lengkap tanpa berziarah ke makam Syekh Maulana Mansyuruddin di Kampung Cikadueun, Pandeglang. Letaknya di kaki gunung membuat suasana tempat ini terasa eksklusif dan tenang.
Sejumlah sumber menyebut Syekh Maulana berasal dari Jawa Timur. Meski demikian, beliau dikenang sebagai sosok yang sangat berjasa dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah Banten Selatan. Dakwahnya yang cerdas dan berani dipercaya menjadi salah satu penyebab Islam berkembang pesat di daerah ini. Makam tersebut ramai dikunjungi peziarah, baik dari dalam maupun luar Banten, terutama pada akhir pekan dan masa libur panjang.
Rute dan akses: sebagian sumber mencatat Cikadueun di Kecamatan Cimanuk, sebagian lain di Kecamatan Cipeucang. Karena sering diziarahi dalam satu rangkaian dengan Batu Quran, cara termudah adalah memulai dari pusat Kota Pandeglang, menuju Cimanuk, lalu mengikuti petunjuk warga ke Cikadueun.
Tips: karena tempat ini populer, datang lebih pagi membantu menghindari antrean di area makam. Hindari membawa barang berharga berlebihan dan jaga kendaraan di area parkir.
Makam Buya Bustomi di Cisantri, Pendiri Pesantren Al-Hidayah
Masih di Pandeglang, ada makam Ahmad Bustomi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Bustomi, juga ditulis Buya Histomi. Makamnya berada di Kampung Cisantri, Desa Curug Barang, Kecamatan Cipeucang. Sepanjang hidupnya, beliau dikenal mengabdikan diri untuk dakwah dan pendidikan Islam, serta mendirikan Pondok Pesantren Al-Hidayah. Para santrinya tersebar di berbagai penjuru negeri, dan itulah salah satu alasan banyak alumni serta jamaah datang untuk mendoakan sang guru.
Rute dan akses: Cikadueun dan Cisantri sama-sama tercatat di Kecamatan Cipeucang dalam sejumlah sumber, sehingga peziarah sering menyusun rute berurutan antara makam Syekh Maulana Mansyuruddin dan makam Buya Bustomi. Gunakan peta digital dengan kata kunci nama kampung dan desa, lalu konfirmasi arah kepada warga di persimpangan.
Tips: karena lokasi berada di lingkungan pesantren dan permukiman, jaga suara dan perilaku selama berziarah. Bawa uang tunai kecil untuk parkir dan infak.
Makam Syekh Muhammad Sholeh di Gunung Santri
Berpindah ke Kabupaten Serang bagian utara, makam Syekh Muhammad Sholeh di Gunung Santri berada di puncak bukit di Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Serang, Banten. Syekh Muhammad Sholeh dikenal sebagai ulama yang menyebarkan Islam di wilayah pantai utara Banten. Dalam kisah yang beredar, beliau pernah berguru kepada Sunan Ampel, kemudian menimba ilmu dan mengabdi kepada Sunan Gunung Jati, sebelum menetap di Gunung Santri. Beliau wafat pada usia 76 tahun dan berpesan agar dimakamkan di bukit ini.
Yang membuat makam Syekh Muhammad Sholeh di Gunung Santri berbeda adalah perjalanan menuju puncaknya. Peziarah harus naik dari kaki bukit dengan berjalan kaki sekitar 500 meter. Tanjakannya cukup curam, sehingga stamina dan alas kaki yang tepat sangat dibutuhkan. Sebagai imbalannya, udara segar dan pemandangan alam akan menemani setiap langkah menuju makam.
Rute dan akses: Bojonegara terletak di pesisir utara Kabupaten Serang. Kendaraan harus ditinggalkan di kaki bukit, lalu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Tips: berangkat pagi agar tidak mendaki di bawah terik matahari, bawa air minum, dan hindari mendaki saat hujan deras karena jalur menanjak menjadi licin. Lansia dan anak kecil perlu pendampingan atau cukup menunggu di bawah.
Masjid Agung Tanara, Jejak Dakwah di Kampung Syekh Nawawi
Masjid Agung Tanara menjadi alternatif wisata religi yang layak dimasukkan ke daftar. Masjid ini berlokasi di Kampung Tanara, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, dan merupakan peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten. Banyak catatan menyebut jejak dakwah Islam di Banten berawal dari masjid klasik ini. Desainnya yang unik dan bergaya lama menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun luar kota.
Tanara juga dikenal sebagai kampung kelahiran Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar yang kemudian mengajar di Masjidil Haram dan menjadi guru bagi banyak tokoh pesantren, termasuk KH Hasyim Asy'ari. Perlu diketahui, makam Syekh Nawawi berada di Ma'la, Makkah, bukan di Tanara. Meski begitu, kampung ini menyimpan banyak jejak beliau, seperti Bait Nawawi yang menjadi kediaman beliau dan pesantren yang meneruskan tradisi keilmuannya. Sejak 2019, pemerintah juga menata kawasan masjid agar lebih nyaman bagi peziarah.
Rute dan akses: Tanara berada di Kabupaten Serang. Dari pusat Kota Serang, gunakan kendaraan pribadi atau sewa kendaraan, lalu ikuti petunjuk peta menuju Masjid Agung Tanara.
Tips: bila waktu memungkinkan, gabungkan kunjungan ke masjid ini dengan perjalanan ke kawasan Banten Lama dalam satu hari, karena keduanya sama-sama bagian dari jejak Kesultanan Banten dan berada di wilayah Serang.
Masjid Agung Banten Lama, Ikon Wisata Religi Banten
Inilah destinasi paling terkenal di antara semuanya. Masjid Agung Banten Lama berlokasi di kawasan Banten Lama, Jalan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Masjid ini berstatus cagar budaya dan didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin pada pertengahan abad ke-16. Sebagian catatan menyebut kurun 1552 sampai 1570, sementara sumber lain mencatat pembangunan pertamanya pada 1556. Pembangunannya tidak selesai dalam satu masa pemerintahan, melainkan dilanjutkan para sultan berikutnya.
Daya tarik utamanya ada pada perpaduan budaya. Atap tumpang lima bergaya Jawa berdiri berdampingan dengan menara setinggi sekitar 24 meter yang dirancang Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang warga Belanda yang masuk Islam, serta bangunan tiyamah dua lantai bergaya Eropa. Soal siapa perancang bangunan utamanya, pendapat para ahli dan masyarakat berbeda. Sebagian menyebut Cek Ban Cut, arsitek asal Tiongkok, sedangkan pihak lain menegaskan bahwa Raden Sepat dari Demak-lah perancangnya. Perbedaan versi ini justru menambah daya tarik cerita tempat ini.
Masjid yang mampu menampung sekitar 2.000 jemaah ini masih aktif digunakan untuk ibadah sehari-hari. Ulasan Masjid Agung Banten Lama dari Good News From Indonesia mencatat bahwa masjid ini buka setiap hari dan tidak memungut tiket masuk. Peziarah datang dari berbagai penjuru Pulau Jawa, bukan hanya dari Banten dan Jawa Barat. Bagi pencinta arsitektur sakral, masjid ini layak disandingkan dengan masjid ikonik Indonesia yang wajib dikunjungi.
Rute dan akses: dari Jakarta, gunakan Tol Jakarta-Merak dan keluar di Gerbang Tol Serang Timur, lalu lanjutkan sekitar 10 kilometer menuju Banten Lama. Dari pusat Kota Serang, perjalanan ke Kasemen memakan waktu sekitar 10 sampai 15 menit dengan kendaraan bermotor, dan angkutan umum dari pusat kota menuju Kasemen juga tersedia. Saat singgah makan di perjalanan, wisata kuliner halal Kota Tangerang bisa menjadi rujukan karena Tangerang berada di jalur menuju Merak.
Tips: pelataran masjid kini dilengkapi payung konvertibel raksasa yang membuat suasana lebih nyaman dan estetik. Tetap siapkan kesabaran ketika kawasan ramai, sebab peziarah sering harus bergantian masuk ke area makam.
Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda Nikmati fitur lengkap dari aplikasi favorit kamu tanpa ribet. Langganan aman dan cepat lewat link ini Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik! Sewa Domain, Hosting, Hingga VPS untuk Proyek Digital Anda! Sewa Domain, Hosting, dan VPS untuk Proyek Digital Anda! Dapatkan Akun Bersama Berbagai Aplikasi Web Populer Dengan Harga Murah!
Kompleks Pemakaman Kesultanan Banten
Kompleks pemakaman Kesultanan Banten menyatu dengan kawasan Masjid Agung Banten. Ada makam di sisi utara masjid, dan serambi selatan masjid juga dimanfaatkan sebagai area pemakaman berisi belasan makam sultan beserta keluarganya. Di sinilah dimakamkan para tokoh besar Banten, antara lain Sultan Maulana Hasanuddin beserta istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar, Sultan Maulana Muhammad, dan Sultan Zainul Abidin.
Di antara semua makam tersebut, yang paling sering diziarahi masyarakat adalah makam Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Banten. Bagi banyak peziarah, berziarah ke sini adalah tujuan utama datang ke Banten Lama, bukan sekadar pelengkap kunjungan ke masjid.
Rute dan akses: lokasinya sama dengan Masjid Agung Banten Lama, yakni di Jalan Raya Banten, Kasemen, Kota Serang. Masjid, makam, dan museum berada berdekatan sehingga umumnya bisa dijelajahi dengan berjalan kaki.
Tips: area makam kerap padat pada hari libur, sehingga pengunjung bergantian masuk. Ikuti arahan petugas, jangan memaksa masuk, dan gunakan waktu berdoa secukupnya agar peziarah lain pun mendapat kesempatan. Kawasan ini menjadi contoh nyata wisata religi Banten saat libur Lebaran: pada 2026, ribuan peziarah dari berbagai daerah memadati Banten Lama, dan sebagian pengunjung sempat tertahan macet di akses jalur Kasemen.
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama
Wisata religi tidak hanya soal masjid dan makam. Di kawasan Banten Lama, Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama menawarkan sisi sejarah yang melengkapi pengalaman ziarah. Menurut halaman resmi Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama di Wonderful Indonesia, museum ini diresmikan pada 15 Juli 1985, dikelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, dan menyimpan lebih dari 1.000 artefak.
Museum ini terbilang paling muda dibanding tempat-tempat bersejarah lain di kawasan tersebut, tetapi isinya tetap menarik. Koleksinya mencakup arca, hiasan atap, keramik dari Tiongkok, Jepang, Vietnam, Timur Tengah, hingga Eropa, serta berbagai mata uang yang menjadi bukti bahwa Banten pernah menjadi pelabuhan dagang yang ramai. Melalui pameran dan koleksi di dalamnya, pengunjung mendapat gambaran garis besar tentang kehidupan sehari-hari dan sejarah penduduk kerajaan Islam Banten pada abad ke-16 hingga abad ke-19, meskipun sebagian cerita tentang masa itu belum terkuak secara detail hingga kini.
Jam dan biaya: data pengelola yang dipublikasikan menunjukkan museum buka pada hari kerja, yakni Senin sampai Jumat, dengan jam operasional yang berkisar antara pagi hingga sore hari, dan tutup pada hari libur nasional. Beberapa sumber mencatat jam berbeda untuk akhir pekan, sehingga sebaiknya konfirmasi lebih dulu ke pengelola sebelum datang pada Sabtu atau Minggu. Berdasarkan data pariwisata nasional, tiket masuk museum gratis.
Tips: jika waktu masih ada, kunjungi juga Museum Negeri Banten di kawasan yang sama. Museum ini tidak memungut biaya dan umumnya buka pada hari kerja, pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Kawasan Banten Lama juga menyimpan situs sejarah lain seperti Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Pelabuhan Karangantu yang bisa dijelajahi dalam satu rute.
Cara Menyusun Rute Ziarah Banten dalam Satu atau Dua Hari
Sembilan lokasi ini sebaiknya tidak dipaksakan dalam satu hari karena sebarannya cukup luas. Pengelompokan berdasarkan wilayah adalah cara paling efisien.
Hari pertama bisa difokuskan ke Pandeglang. Mulailah dari makam Syekh Abdul Jabbar di Karangtanjung, lanjut ke Cimanuk untuk Batu Quran dan makam Syekh Maulana Mansyuruddin di Cikadueun, kemudian tutup dengan makam Buya Bustomi di Cipeucang. Karena beberapa lokasi berdekatan, perjalanan terasa lebih ringkas.
Hari kedua diarahkan ke Serang. Mulai pagi dari Gunung Santri di Bojonegara selagi stamina masih penuh, kemudian sambung ke kawasan Banten Lama untuk masjid, makam sultan, dan museum, dan sisakan Masjid Agung Tanara bila waktu masih ada. Sesuaikan urutan dengan arah perjalanan di peta. Bila waktu terbatas, kawasan Banten Lama saja sudah cukup mewakili perjalanan sehari penuh.
Peziarah dari Jakarta yang menginap di Serang atau Tangerang bisa menjadikan Banten Lama sebagai tujuan pertama. Untuk inspirasi destinasi lain sebelum atau sesudah ziarah, tujuan wisata favorit lain di Banten layak dibaca.
Jam Buka, Biaya, dan Waktu Terbaik Ziarah ke Banten
Jam buka: Masjid Agung Banten buka setiap hari tanpa tiket masuk. Makam-makam ulama di Pandeglang dan Gunung Santri umumnya didatangi sejak pagi hingga sore tanpa jadwal resmi yang dipublikasikan. Museum mengikuti jam kerja, sehingga jangan merencanakan kunjungan museum pada hari libur nasional.
Biaya: sebagian besar lokasi tidak memungut tiket masuk resmi. Pengeluaran utama biasanya parkir, infak, bahan bakar atau sewa kendaraan, dan konsumsi. Bawa uang tunai pecahan kecil karena tidak semua tempat menyediakan pembayaran nontunai.
Waktu terbaik: hari kerja di luar musim libur panjang adalah pilihan paling nyaman. Pada libur Lebaran, akhir pekan panjang, dan menjelang Ramadan, kawasan Banten Lama dan makam-makam populer sering dipadati ribuan peziarah, bahkan kemacetan pernah mengular hingga sekitar 4 kilometer menuju kawasan makam sultan. Jika tetap ingin berziarah saat libur Lebaran, berangkat sebelum subuh, tentukan rute lebih awal, dan siapkan bekal. Untuk menu makan bersama keluarga selepas ziarah, hidangan favorit Lebaran keluarga Indonesia bisa jadi inspirasi. Peringatan haul tokoh-tokoh yang disebut di atas diadakan pada waktu yang berbeda-beda dan umumnya diumumkan pengurus makam atau pesantren setempat, sehingga tanggalnya perlu dicek langsung sebelum berangkat.
Adab Ziarah Makam Wali yang Perlu Diperhatikan
Ziarah kubur dianjurkan dalam Islam karena melembutkan hati, mengingatkan pada akhirat, dan menjadi sarana mendoakan orang-orang saleh. Rangkuman adab dari rujukan ulama, antara lain yang dimuat adab dan doa ziarah kubur menurut NU Online, sebagai berikut:
- Luruskan niat. Ziarah bertujuan mendoakan penghuni makam dan mengingat kematian, sedangkan segala permohonan ditujukan hanya kepada Allah.
- Awali dengan salam kepada ahli kubur, kemudian perbanyak bacaan Al-Quran, zikir, dan doa untuk mereka serta seluruh kaum muslimin.
- Di makam para wali, banyak ulama membaca qasidah salam penghormatan seperti Salamullah Ya Sadah.
- Jaga ucapan dan perilaku. Jangan berkata buruk, berteriak, atau bercanda berlebihan.
- Jangan duduk, menginjak, atau bersandar di atas makam, dan hindari makan serta minum di area pemakaman.
- Berpakaian sopan dan tutup aurat dengan baik.
- Patuhi arahan juru kunci dan petugas, terutama saat antre di makam berkapasitas kecil seperti makam Syekh Abdul Jabbar.
- Jaga kebersihan. Bawa kembali sampah dan jangan merusak bangunan atau pepohonan di sekitar makam.
Untuk rujukan rute ziarah lain di Pulau Jawa, tersedia panduan ziarah makam wali di Jepara dan ziarah makam habib dan wali Jakarta. Peziarah yang berencana menyeberang ke Sumatra dapat membaca rute ziarah wali dan ulama Lampung, sementara yang ingin menyeberang ke Pulau Madura bisa menengok ziarah makam wali Allah di Madura.
Tips Praktis Sebelum Berangkat
- Simpan nama lengkap lokasi, desa, dan kecamatan di aplikasi peta, karena beberapa makam berada di kampung dengan jalan sempit.
- Isi bahan bakar dan cek kondisi kendaraan sebelum menuju Pandeglang atau Bojonegara.
- Bawa air minum, payung atau jas hujan, kain sarung atau pakaian longgar, serta sajadah kecil.
- Gunakan alas kaki yang nyaman untuk mendaki ke Gunung Santri.
- Siapkan uang tunai pecahan kecil untuk parkir dan infak.
- Hubungi pengelola atau pengurus setempat jika berangkat bersama rombongan besar.
FAQ: Pertanyaan Seputar Wisata Religi di Banten
Apa saja tempat wisata religi di Banten yang paling terkenal?
Sembilan di antaranya adalah makam Syekh Abdul Jabbar, Batu Quran, makam Syekh Maulana Mansyuruddin, makam Buya Bustomi, makam Syekh Muhammad Sholeh di Gunung Santri, Masjid Agung Tanara, Masjid Agung Banten, kompleks pemakaman Kesultanan Banten, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.
Apakah Masjid Agung Banten Lama dipungut tiket masuk?
Tidak. Masjid ini buka setiap hari dan tidak memungut tiket masuk. Pengeluaran umumnya hanya untuk parkir dan infak.
Di mana letak Masjid Agung Banten Lama dan bagaimana cara menuju ke sana dari Jakarta?
Masjid berada di kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Dari Jakarta, gunakan Tol Jakarta-Merak, keluar di Gerbang Tol Serang Timur, lalu tempuh sekitar 10 kilometer menuju Banten Lama.
Siapa yang mendirikan Masjid Agung Banten?
Sultan Maulana Hasanuddin, sultan pertama Kesultanan Banten, pada pertengahan abad ke-16. Menara masjid dirancang kemudian oleh Hendrik Lucaasz Cardeel pada 1632.
Berapa orang yang bisa masuk sekaligus ke makam Syekh Abdul Jabbar?
Area makam hanya mampu menampung kurang lebih 20 orang sekali masuk, sehingga rombongan besar perlu bergantian dan menjaga ketertiban.
Apa itu Batu Quran di Pandeglang?
Batu Quran adalah situs di kaki Gunung Karang, Kecamatan Cimanuk, berupa kolam dengan batu besar di dasarnya. Menurut kepercayaan setempat, batu ini terkait dengan Syekh Maulana Mansyuruddin dan dipercaya pernah bertuliskan ayat Al-Quran yang hanya terlihat oleh orang berilmu tinggi.
Seberapa jauh pendakian ke makam Syekh Muhammad Sholeh?
Dari kaki bukit menuju puncak Gunung Santri jaraknya sekitar 500 meter dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui tanjakan yang cukup curam.
Apakah makam Syekh Nawawi al-Bantani ada di Tanara?
Tidak. Tanara adalah kampung kelahiran beliau, sedangkan makamnya berada di Ma'la, Makkah.
Kapan waktu terbaik wisata religi di Banten?
Hari kerja di luar libur panjang adalah waktu paling nyaman. Saat libur Lebaran, kawasan Banten Lama sangat ramai sehingga perlu berangkat lebih pagi.
Apakah Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama buka setiap hari?
Museum umumnya buka pada hari kerja dan tutup pada hari libur nasional. Konfirmasi dulu ke pengelola sebelum berkunjung pada akhir pekan.
Penutup
Video: 9 Tempat Wisata Religi di Banten, Ziarah Makam Keramat dan Masjid Agung! Cocok buat Libur Lebaran!
Wisata religi di Banten menawarkan lebih dari sekadar ziarah. Ada cerita tentang ulama yang menyebarkan Islam, situs yang sarat legenda, masjid tua yang memadukan banyak budaya, hingga museum yang merekam kejayaan Kesultanan Banten. Menyusun rute berdasarkan wilayah, memilih waktu berkunjung yang tepat, serta menjaga adab selama di makam akan membuat perjalanan lebih khusyuk dan berkesan, baik bagi rombongan majelis taklim, keluarga, maupun peziarah yang berangkat sendiri. Untuk melengkapi perjalanan, kunjungi pula daftar tempat lain di provinsi ini agar waktu liburan terasa lebih berarti.
Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk pertanyaan bisnis dan pemasangan artikel promosi bisa menghubungi: 0813-8229-7207 |
























